Lopang Gede, Sehari Usai Pemakaman Imam Samudera

jenajah-imam-samudra-saat-disolatkanSerang – Suasana Kampung Lopang Gede, Kota Serang, Banten tampak lengang, Senin (10/11) setelah pemakaman Abdul Aziz alias Imam Samudera, terpidana mati bom Bali I yang dieksekusi Minggu (9/11), pukul 00.15 di LP Nusakambangan. Kuburan Imam berada di dekat ayahnya, Shihabudin bin Muhamad Nachchay di pemakaman umum di Lopang Gede.

Gerbang di Lopang Gede yang sebelumnya dijaga ketat terlihat lengang. Portal yang semula difungsikan untuk menyeleksi orang yang masu ke wilayah ini, Senin pagi tampak dibiarkan terbuka. Hanya ada beberapa orang yang berkumpul di warung sekitar pintu masuk tersebut. Warga pun beraktivitas seperti hari-hari sebelum peristiwa pemakaman Imam Samudera, yaitu sibuk pergi ke kantor maupun berdagang di Pasar Lama Serang yang tak jauh dari Lopang Gede.

Sementara itu, Tim Pembela Muslim (TPM) Banten, Agus Setiawan mengatakan, pihaknya akan meminta kepada Komisi III DPR, Komisi Nasional Hukum dan Ham untuk membentuk tim pencari fakta. Pasalnya, dengan dipersulitnya permintaan keluarga dan juga pengacara untuk mengunjungi terpidana mati bom Bali I, yaitu Amrozi, Ali Gufron alias Mukhlas, dan Imam Samudra. Berindikasi adanya faktor kekerasan, tekanan dan balas dendam dalam melakukan eksekusi. “Kami meragukan eksekusi yang dilakukan oleh eksekutor,” kata Qadhar Faisal Ruskanda, yang datang ke kediaman Embay Badriyah.

Pelaksana Medis Mer-C, Yose Rizal mengatakan, akan melakukan koordinasi dengan keluarga terkait ada tidaknya kejanggalan eksekusi mati oleh tim eksekutor. “Kalau memang diperlukan otopsi, peralatan kami sudah lengkap,” kata Yose Rizal.

Menurut Yose, dari hasil pemeriksaan tes kesehatan yang dilakukannya kepada tiga terpidana mati bom Bali I, seminggu sebelum eksekusi. Untuk Imam Samudra sehat-sehat saja tanpa ada keluhan apapun. “Pada perinsipnya kesehatan mereka (Amrozi, Ali Gufron alias Mukhlas, dan Imam Samudra) sehat-sehat saja,” kata dia.

Tinggalkan Balasan