Serang – Keluarga terpidana mati bom Bali I, Imam Samudra alias Abdul Aziz hanya melihat wajah Imam Samudra sebatas wajah. Sehingga, keluarga tidak bisa mengetahui berapa peluru yang menembus tubuh Imam Samudra. Imam Samudra dimakamkan di sebelah ayahnya Shihabudin bin Muhamad N, Minggu (9/11).
Jenazah Imam Samudra yang dibawa oleh Helikopter dari Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah menuju Provinsi Banten, mendarat di Mapolda Banten pada pukul 08.25 wib. Jenajah Imam Samudra langsung dipindahkan ke mobil ambulance milik RSUD Serang, dengan nomor polisi A 9922 A.
Setelah dipindahkan, jenazah Imam Samudra langsung dibawa kerumah orang tua istri Imam Samudra, Zakiah Darajad yang terletak di Komplek Pasir Indah, Kampung/ Kelurahan Cinaggung, Kecamtan Serang, Kota Serang dengan pengawalan ketat. Jenazah Imam Samudra tiba dirumah orang tua Zakiah pada pukul 08.40 wib yang langsung disambut oleh pihak keluarga.
Jenazah Imam Samudra, langsung dibawa masuk oleh keluarga yang didampingi oleh Asintel Kejati Banten Firdaus Dwilmar kedalam rumah. Keluarga langsung menutup pintu rumah dan melarang wartawan untuk mengambil gambar. Selang beberapa menit, teriakan gemuruh takbir dari dalam rumah terdengar menggelegar secara terus-menerus.
Didalam rumah mertua Imam Samudra itu, sudah ada Zakiah, Istri Imam Samudra dan empat orang anak Imam Samudra yaitu Umar Jundalhak, 12, Salsabila, 10, Tasnim, 8, dan juga Iyas, 6, serta keluarga Imam Samudra yang telah menanti kedatangnya.
Jenazah Imam Samudra, tidak kembali dimandikan dan diganti kain kafanya oleh keluarga. Janzah Imam Samudra, hanya dipindahkan dari keranda yang dibawa ambulance milik RSUD Serang ke keranda milik Mer-C.
Sebab, janzah Imam Samudra juga dipindahkan dari mobil ambulance milik RSUD ke ambulance Mer-C dengan nomor polisi B7640IP saat akan dibawa ke Masjid Al Manar yang terletak di jalan raya Banten Nomor 58 Kelurahan Lopang, untuk disholatkan. Di Masjid Al Manar itu, telah berkumpul ribuan orang dari berbagai ormas islam yang datang dari berbagai kota dan juga warga setempat, untuk menyambut kedatangan jenazah Imam Samudra.
Karena luas masjid tidak bisa menampung jamaah, maka sholat jenazah dibagi menjadi tiga termin. Diantaranya, selaku imam dalam sholat jenazah pada termin pertama dipimpin oleh Haririr Karim dan pada sholat yang kedua dipimpin oleh Alawi Mamun.
Ditengah prosesi sholat jenajah Imam Samudra, massa ormas islam sempat tegang dengan Kapolres Serang AKBP Mamat Surahmat. Karena, massa melarang Kapolres untuk masuk kehalaman masjid Al Manar.
Tidak hanya itu, setelah jenazah akan dimakamkan menuju Tempat Pemakaman Umum (TPU), Lopang Gede, Kecamtan Serang, Kota Serang Banten. Polisi berpakaian preman menagkap satu orang ormas islam yang sedang mengantar jenazah dekat dengan Masjid AL Manar. Namun, saampai saat ini belum diketahui penyebab laki-laki dengan badan kekar yang menggunakan baju biru itu ditangkap dan langsung dibawa dengan mobil kijang super.
Bahkan, kericuhan juga terlihat saat prosesi pemakaman Imam Samudra akan dimulai. Barisan anggota polisi yang memberi jarak dengan makam Imam Samudra, akhirnya jebol akibat desakan ribuan warga yang ingin menyaksikan prosesi pemakaman Imam Samudra lebih dekat.
Kendati demikian, prosesi pemakaman Imam Samudra yang disaksikan keluarga dan sahabat serta pendukung Imam Samudra sangat lancer. Bahkan ibunda Imam Samudra, Istri dan anak-anaknya terlihat tidak menunjukan kesedihan.
Adik Imam Samudra, Lulu Jamaludin usai prosesi pemakaman mengatakan, saat mayat Imam dibuka, wajah Imam Samudra tersenyum dan sangat wangi. Namun di tubuh Imam Samudra masih terlihat darah. “Kalau berapa lukanya gak tahu,” kata dia.
Sementara itu, pengamanan yang dilakukan Polda Banten menjelang proses pemulangan terpidana mati bom Bali I, Imam Samudra ke Provinsi Banten sangat ketat. Bahkan, disetiap pintu menuju kediaman orang tua Imam Samudra di Kawasan Lopang Gede, Kelurahan Lopang, Kecamatan/Kota Serang, dijaga anggota Brimob Polda Banten, lengkap dengan senjata serbu laras panjang.
DIarsipkan di bawah: Sosial