Merak – Kepadatan arus mudik di Pelabuhan Penyeberangan Merak, Banten mulai “mencair” sejak pukul 15.00 wib, Minggu (28/9). Sebelumnya, pengelola pelabuhan ini sempat kewalahan menghadapi ledakan penumpang dan kendaraan yang akan menyeberang ke Bakauhuni, Lampung.
Sejak Jumat (27/9) sore, arus mudik terus melonjak. Pada Sabtu (28/9), tercatat 150.000 penumpang dan 42.000 kendaraan menyeberang ke Bakauhuni, di antaranya 9.500 sepeda motor.
PT ASDP, pengelola pelabuhan segera menerapkan rencanya, yaitu memisahkan pemudik sepeda motor. Mereka ditempatkan di dermaga 4 dengan kapal roro yang khusus mengangkut penumpang dan sepeda motor.
Antrean panjang hingga 1 km dari dermaga 4 pun tak bisa dielakang. Ribuan sepeda motor harus mengantre 4-5 jam di tengah panasnya matahari. Akibatnya tercatat 25 pemudik sepeda motor pingsan.
Antrean panjang pun terjadi pada mobil pribadi dan bus di tiga dermaga. Antrean sepanjang 2 km pun terjadi atau hingga ke luar gerbang masuk pelabuhan.
Pada Minggu, arus mudik diwarnai protes truk pengangkutan sayuran, buah-buahan dan kebutuhan sembilan bahan pokok (sembako).
Protes dilancarkan karena sejak Jumat dilarang menyeberang. Mereka khawatir muatanya menbusuk. “Padahan tahun lalu, truk sembako boleh menyeberang. Larangan itu hanya dikenakan pada truk non sembako,” kata Imron, pengemudi truk bertujuan ke Jambi.
Setelah mendatangi pos polisi dan kantor pelabuhan, akhirnya truk dibolehkan menyeberang. Kebijakan itu pun setelah kepadatan arus mudik berkurang. (*)