Serang – PT Kereta Api Indonesia (KAI) mengoperasikan KA Ekonomi Banten Ekspres untuk melayani jurusan Merak-Jakarta, menggantikan Kerta Api Patas Merak yang kini sudah tidak beroprasi lagi. Upacara pengoperasian KA yang memiliki 10 gerbong yang terdiri 9 gerbong tempat duduk dan 1 restorasi itu dilakukan Meteri Perhubungan RI, Jusman Syafei Jamal dihadiri Gubernur Banten, Atut Chosiyah di Statsiun KA Serang, Senin (22/9) sore.
KA Ekonomi Banten Ekspres melayani jalur Merak-Jakarta atau sebaliknya untuk sementara hanya 1 trip sehari. Dengan kapasitas angkut 1.114 penumpang, KA ini berangkat dari Stasiun Merak pukul 06.00 WIB dan sampai di Jakarta pukul 11.00 WIB. Sebaliknya, KA berangkat dari Jakrta sekitar pukul 13.00 WIB dan tiba di Merak pukul 17.30 WIB. Ongkos KA ini adalah Rp 20.000 per tiket dari Merak ke Jakta dan Rp 4.000 dari Merak ke Serang.
Dalam sambutannya, Menteri Perhubungan RI, Jusman Syafei Jamal mengatakan, kebutuhan terhadap angkutan massal dari Banten semakin meningkat. “Permintaan akan transportasi kereta api sangat tinggi. Ini terbukti setiap tahun meningkatnya jumlah kereta api di seluruh provinsi di Indonesia, apalagi penumpang kereta api jurusan Jakarta-Serang atau sebaliknya,” kata Menteri Perhubungan.
Karenanya, pemerintah pusat merencanakan akan membangun kereta api rel diesel dan kereta api diesel Indonesia. Bahkan jalur ganda Kereta api Serpong-Maja. “Pemerintah akan terus berupa memberikan terbaik guna masyarakat penumpang KA, apalagi tarif angkutan kereta api terjangkau oleh masyarakat,” ujarnya.
KA Ekonomi Banten Ekspres ini memiliki fasilitas lengkap seperti kipas angin, tempat duduk yang luas dan memiliki fasilitas untuk penyandang cacat. “Kamar kecil dalam KA Banten Ekspres ini memiliki satu kamar kecil yang diperuntukan untuk penyandang cacat dan tempat duduk yang panjang,” katanya.
Untuk memberikan kenyamana dan kseelamatan penumpang, seluruh masinis kereta api akan diberikan sertifikat, sehingga dapat mengurangi kecelakaan kereta api. “Dengan proses sertifikasi ini keselamatan terus meningkat dan baik serta dengan serifikasi kenyamana penumpang juga terjaga,” ujar dia.
Bagian Sarana Dinsas Perhubungan (Dishub) Lipo Besar Jakarta, Hafid Nurochim KA Banten Ekspres masih memiliki kelemahan, di antaranya kamar kecil untuk penyandang cacat jumlahnya hanya satu. “Gerbong dalam KA Banten Ekspres ini memang banyak kelebihan, tapi sayang kekurangan masih ada, yaitu fasilitas untuk penyandang cacat sangat minim,” terang Hafid kepada sejumlah wartawan sebelum acara dimulai.
Sementara itu, Gubernur Banten, Atut Chosiyah meminta kepada Menteri Perhubungan (Menhub) Republik Indonesia (RI) Jusman Safei Djamal untuk segera merealisasikan infrastruktur jalan tol menuju kawasan industri Bojonegara Kabupaten Serang.
“Kebutuhan transportasi di Banten sangat tinggi termasuk penumpang Kereta Api (KA) jurusan Jakarta-Merak, Jakarta-Rangkasbitung dan Jakarta-Tangerang. Dengan semakin tingginya penumpang kereta api, saya rasa maka akan diikuti oleh sarana trasportasi lainnya,” kata Atut.
Dengan semakin tumbuh dan berkembangnya, kawasan industri di Bojonegara dan kilang minyak (oil refinery) yang tengah dalam proses maka kebutuhan akan sarana dan prasarana infrastruktur juga dibutuhkan, salah satunya adalah pembangunan jalan tol menuju kawasan Bojonegara sepanjang 14 kilo meter. “Karena pembangunan jalan tol itu merupakan kewenangan pusat, dan kami harap Pak Menteri yang menindaklanjutinya,” kata Atut.
Namun sambutan Gubernur Banten, Atut Chosiyah yang meminta segera direalisasikannya rencana pembanguna jalan tol ke Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Bojonegara itu tidak secara spontan dijawab Menteri Perhubungan. Menteri hanya mengomentari soal transportasi KA yang sangat membantu dalam mengurangi kepadatan arus mudik Lebaran tahun 2008.
Gubernur Banten mengatakan, Banten memiliki 5 jaring lintas kereta api dengan panjang lintasan 306,90 km. Namun dari 5 jaring lintas itu yang berfungsi hanya 3 lintasan saja, yakni 147,44 km lintasan yang meliputi lintasan Jakarta-Serang-Merak, Jakarta-Tangerang dan lintasan Cilegon – Cigading.
Sedangkan 2 jaring lintas yang tidak aktif yakni lintasan Rangkasbitung–Labuan–Saketi– Bayah dan lintasan Cigading – Anyer Kidul dengan panjang lintasan 156,46 km. “Kalau dua lintasan itu diaktifkan, sangat bisa membantu masyarakat Banten Selatan,” kata Atut. (*)
DIarsipkan di bawah: Sosial
Kapan ya lintasan yang tidak aktif tersebut diaktifkan kembali?
Khusus nuntuk Lintasan Rangkasbitung–Labuan–Saketi– Bayah, harus secepatnya direalisasikan. Hal tersebut sangat penting untuk peningkatan pembangunan wilayah banten selatan. Untuk Lintasan Cigading-Anyer selatan, perlu juga dihidupkan untuk menunjang pariwisata pantai daerah anyer. Bahkan kalau bisa diteruskan menjadi Cigading-Anyer selatan-Labuan. Setelah terwujud, bisa dibuat kereta komuter lingkar Serang. dengan rute Serang-Cigading-Anyer-Labuan-Pandeglang-Serang. Begitu pula sebaliknya. Dengan adanya kereta tersebut dijamin pertumbuhan pariwisata banten semakin pesat.