Serang – Sebanyak 9.275 bayi di bawah umur lima tahun (Balita) di Provinsi Banten tercatat sebagai penderita gizi buruk yang tercatat sejak Januari-November 2008. Di antaranya sembilan balita meninggal dunia akibat penyakit ikutan dari kondisi gizi buruk. Penderita gizi buruk ini dikhawatirkan semakin bertambah dengan kondisi perekonomian yang sulit akibat krisis keuangan global.
Tiara Rizki, Pelaksana Penanganan Gizi di Dinas Kesehatan, Senin (8/12) mengemukakan, dari jumlah itu terbanyak berada di Kabupaten Tangerang sebanyak 2.598 Balita. Padahal daerah ini dinilai lebih makmur dan lebih maju pembangunannya dibandingkan dengan kabupaten dan kota lainnya di Provinsi Banten.
Tiara mengemukakan, selama Januari-November tercatat 9 balita meninggal yang berasal dari 7 balita di Kabupaten Lebak dan 2 balita dari Kabupaten Serang. Penyebab kematian balita itu antara lain parlu-paru, infeksi saluran pernafasan akut, radang otak dan sebainya. Penyakit ini diderita karena kondisi gizi buruk balita.
Dia merinci, jumlah balita penderita gizi buruk di Kabupaten Lebak mencapai 906 orang, Serang sebanyak 1.847 balita, Kota Tangerang sejumlah 1.314 balita, Kota Cilegon sebanyak 277 balita, Kota Serang sebanyak 644 balita dan Kabupaten Tangerang mencapai 2.598 balita.
”Dari jumlah balita penderita gizi buruk itu menunjukan daerah perkotaan atau bersifat urban malah lebih banyak penderita gizi buruk dibandingkan daerah yang masih bersifat pedesaan. Karena itu ada kekhawatiran krisis keuangan global yang berdampak pada PHK para pekerja justru akan menambah panjang deretan angka penderita gizi buruk balita,” ujarnya.
Upaya pengentasan gizi buruk berkaitan denga upaya pengentasan kemiskinan yang penanganannya harus dilakukan lintas sektoral. Karena itu, Dinkes setempat berupaya memberikan pemberian makanan tambahan (PMT). ”Bagi orang tua yang membawa anak penderita gizi buruk ke Puskesmas, selain diberi PMT, juga diberi uang transpor Rp 20.000 sekali berkunjung. Tujuannya untuk memudahkan keluarga miskin membawa anaknya ke Puskesmas, tidak kesulitan ongkos,” ujarnya. (*)

